Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2022

Rasa Takut Abdullah bin Al-Mubarak kepada Allah

Al-Qasim bin Muhammad bercerita, Kami pernah melakukan perjalanan bersama dengan Abdullah bin Al-Mubarak. Hatiku sering bertanya-tanya, apa kelebihan orang ini dibandingkan kami, sehingga ia mencapai kemuliaan yang tinggi di tengah-tengah manusia? Padahal kalau ia shalat, maka kami pun shalat. Jika ia berpuasa, maka kami pun berpuasa. Jika ia berperang, maka kami pun berperang. Dan jika ia berhaji, maka kami pun berhaji.”

Al-Qasim melanjutkan, “Sampai suatu ketika di suatu perjalanan menuju Syam, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu mati. Lalu sebagian dari kami berdiri. Abdullah bin Al-Mubarak mengambil lampu. Ia keluar mencari penerangan, lalu diam beberapa saat, kemudian ia membawa lampu tersebut ke kami. Aku kemudian melihat wajah Abdullah bin Al-Mubarak, janggutnya basah dengan air matanya. Aku pun berkata di hatiku, dengan rasa takut itulah ia diutamakan Allah dari kami. Barangkali ketika lampu mati dan menjadi gelap, ia teringat pada hari Kiamat.”

Rabu, 14 September 2022

Qalbun Salim

Syaikh Muhamad Yusuf al-Kandahlawi di dalam kitab Hayat al-Shahabah menceritakan sebuah hadits tentang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah. Ketika Abu Dujanah sakit keras, sahabat yang lain berkunjung kepadanya.

Tetapi menakjubkan, walaupun wajahnya pucat pasi, Abu Dujanah tetap memancarkan cahayanya, bahkan hingga akhir hayatnya. Kemudian sahabat bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan wajahmu bersinar?” Abu Dujanah menjawab, “Ada amal yang tidak pernah aku tinggalkan dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kedua, aku selalu menghadapi sesama kaum muslim dengan hati yang bersih, yang oleh al-Qur’an disebut qalbun salim.

Selasa, 13 September 2022

Tiga Hari Bersama Penduduk Surga

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik ra meceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rasulullah Saw.

Anas bin Malik ra bercerita, “Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki calon penduduk surga’. Tiba-tiba muncullah seorang laki-laki Anshar yang janggutnya masih basah oleh air wudhu dan tangan kirinya sedang membawa sandalnya.”

Esok harinya, Rasulullah Saw berkata begitu juga, “Akan datang seorang laki-laki calon penduduk surga.” Dan muncullah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali berturut-turut.

Rabu, 26 Agustus 2015

Cermin Anak

Suatu hari, di sebuah sekolah diadakan pementasan drama yang meriah, dengan pemain yang seluruhnya merupakan siswa di sekolah tersebut. Setiap anak mendapatkan peran. Mereka mengenakan kostum sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Semuanya antusias, karena akan ada hadiah untuk siswa yang penampilannya paling bagus. Para orangtua siswa turut hadir menyemarakkan acara tersebut.

Pementasan drama berjalan sempurna. Semua siswa tampil maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya. Ada pula yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut wajah ketus, karena ia mendapat peran sebagai pak tua yang pemarah. Sementara di sudut lain, ada seorang anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar di sisi kiri dan kanan panggung.

Minggu, 16 Agustus 2015

Beginilah Jika Bersaudara

Ada dua orang bersaudara bekerja sama menggarap ladang milik keluarga mereka. Si kakak telah menikah dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang dan berencana untuk tidak menikah. Saat musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil panen sama rata.

Pada suatu hari, si adik berkata dalam hatinya, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit."
Akhirnya si adik mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam meletakkan karung tersebut di lumbung milik kakaknya. Sekarung ia anggap cukup untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.

Si kakak yang sudah menikah pun merasa gelisah dengan nasib adiknya. Ia berpikir, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku memiliki istri dan anak-anak yang akan merawatku kelak saat usiaku tua. Sedangkan adikku tak punya siapa-siapa, tidak akan ada yang peduli jika ia tua nanti. Ia berhak memperoleh hasil lebih dibanding aku."

Jumat, 14 Agustus 2015

Sepatu Si Bapak Tua

Suatu hari, seorang bapak tua bepergian menaiki bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus pun berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak mungkin memungut sepatu yang jatuh.

Menghadapi kenyataan tersebut, si bapak tua itu melepas sepatunya yang tinggal sebelah dan melemparkan ke luar jendela. Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang dan bertanya kepada bapak tua tersebut, "Mengapa Bapak melemparkan sepatu Bapak yang tinggal sebelah itu?"

Dengan tenang dan diiringi senyum, bapak tua itu menjawab, "Supaya siapa pun yang menemukan sepatu saya, ia bisa memanfaatkannya."